Memetik Semangat Intelektualisme Ramadhan

Ramadhan tahun 1440 telah memasuki waktu yang disunnahkan untuk melakukan I’tikaf.[1] Ramadhan yang telah menuju penghujung waktunya seharusnya mengeratkan kisah dan kesan tersendiri bagi muslim. Ramadhan selama ini dipandang sebagai sebuah bulan penuh keberkahan[2] dan merupakan bulan untuk mengejewantahkan semangat pembumian Islam sebagai solusi permasalahan social.[3] Gerakan-gerakan memaknai Ramadhan secara mainstream disenandungkan di berbagai majelis ilmu, di berbagai sudut daerah masyarakat. Pemaknaan Ramadhan ini namun sering kali tidak membahas mengenai aspek yang begitu penting yang sangat berkaitan dengan Ramadhan, yaitu aspek intelektualitas Ramadhan.

Muslim menginsafi secara Bersama bahwa pada bulan Ramadhan ini kitab Al Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa salam. Kesepakatan terjadi di dunia muslim bahwa bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannyaAl Qur’an untuk pertama kali.[4] Suatu hal yang menarik adalah ketika formalisasi ini diiringkan dengan ayat pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw., yaitu Q.S. Al ‘Alaq: 1-5. Ulama’ mencatat bahwa sebelum dibacakan secara sempurna kelima ayat ini, Jibril yang bertugas menemui Muhammad menyampaikan dua kali kata ‘iqra’’. Penyampaian ini dibalas oleh Nabi dengan jawaban bahwa beliau adalah seorang ummi yang tidak bisa membaca. Jibril pun akhirnya mendekap Nabi dan kemudian membacakan kelima ayat secara sempurna.

Turunnya wahyu dengan permulaan iqra’ bukanlah suatu hal yang kebetulan, terlebih kalimat ini mengalami pengulangan di awalnya. Ayat ini menegaskan posisi iqra’ dalam struktur Islam. kata iqra’ sendiri dalam Bahasa Indonesia diartikan sebagai ‘membaca’. Aktivitas membaca dilakukan sebagai sebuah sarana untuk memeroleh ilmu. Penggunaan kata iqra’ secara langsung membawa konsekuensi posisi ilmu yang sangat sentral dalam Islam, bahkan diartikan juga sebagai hal pertama yang harus dimiliki oleh seorang muslim. Quraish Shihab dalam mentafsirkan Q.S. Al ‘Alaq: 1–5 ini menyatakan bahwa wahyu ini memiliki nilai-nilai Pendidikan Islam, yaitu Pendidikan Aqidah, Syariah, dan Akhlak.[5] Ketiga Pendidikan tersebut dalam konstruk pemikiran Islam menurut Ugi Suharto terposisikan Ar Ri’ayah terimplementasi menjadi aqidah, fiqh dan ushul fiqh terimplementasi menjadi Syariah, dan akhlak sebagai bagian terakhir diturunkan menjadi pemikiran politik, social, dan ekonomi.

Sentralnya posisi ilmu dalam Islam memosisikan Islam sebagai agama yang paling banyak membahas mengenenai hakikat ilmu. Posisi ini diberikan oleh Islam karena kedudukan ilmu yang memang dijunjung tinggi dengan peranan yang begitu besar secara eksplisit tersurat dalam Al Qur’an. Definisi ilmu sendiri telah disusun oleh banyak tokoh, dan di antara semuanya, Al Attas menyatakan bahwa definisi ilmu menurut Fakhruddin Ar Razi, Ibn Hazm, dan Al Ghazali adalah definisi terbaik.[6] Menurut definisi ini, pertama, ilmu diisyaratkan sebagai sesuatu yang berasal dari Allah Swt. sehingga bisa dikatakan bahwa ilmu itu adalah datangnya makna sesuatu atau obyek ilmu ke dalam jiwa pencari ilmu, kedua, sebagai sesuatu yang diterima oleh jiwa yang aktif dan kreatif, ilmu bisa diartikan sebagai datangnya jiwa pada makna sesuatu atau obyek ilmu.[7] atas dasar inilah Islam kemudian memosisikan orang berilmu (‘alim-ulama’) di posisi yang tinggi.

Kata ulama’ merupakan bentuk jamak dari kata ‘alim. Kata ‘alim merupakan sebuah kata benda yang diturunkan dari akar kata ‘ilm, yang berarti pengetahuan, atau ilmu. Sharaby mendefinisikan istilah ini sebagai orang-orang terpelajar di bidang ilmu keagamaan.[8] Imam Ghazaly dalam kitab Ihya’ ‘Ulumuddin menyampaikan bahwa kriteria ulama’ yaitu orang yang makananannya, pakaiannya, tempat tinggalnya (rumah) dan hal- hal lain yang berkaitan dengan kehidupan duniawi, sederhana, tidak bermewah-mewahan dan tidak berlebihan dalam kenikmatan.[9] Syamsuddin Arif mendefinisikan Ulama’ sebagai orang-orang yang mempunyai kepahaman akan agama Allah kemudian ia menguasai dan mengajarkannya (man faquha fi dênillah fa-‘alima wa ‘allama). Bukan hanya itu, para ulama adalah orang-orang yang terdapat padanya sifat-sifat keilmuan, kebaikan, dan keunggulan (man ijtama‘at fêhim khiîél al-‘ilm wa al-khayr wa al-faìl).[10] Hal ini sesuai dengan pernyataan Al Attas, bahwa ulama’ sebagai seorang berilmu, maka ilmu pertama yang harus ia pahami adalah konsep tentang hakikat Tuhan.[11]

Ulama’ disebutkan secara eksplisit di dalam Al Qur’an sebanyak dua kali, yaitu pada Q.S. as-Syu’ara: 197 dan Q.S. Fatir: 28. Ulama’ di kedua ayat tersebut mengacu pada kelompok elit orang-orang terpelajar di bidang agama dan takut kepada Allah. Quraish Shihab menyampaikan bahwa dalam Q.S. Syu’ara: 197, ulama’ Bani Israil yang disebutkan dalam ayat tersebut bahkan mengetahui tentang sifat Al-Qur’an sebagai wahyu Ilahi dan kebenaran sifat-sifat yang disandangnya karena sesuai dengan apa yang mereka ketahui melalui kitab suci mereka, bahkan mengetahui pula kebenaran kandungannya. Hanya saja Bani Israil tetap tidak mau membuka hati untuk menerima kebenarannya.[12] HAMKA juga menyatakan mengenai hal ini, di mana HAMKA menyatakan bahwa ulama’ yang lurus juga tetap mengakui Nabi Muhammad, namun bani Israil tidak mengakuinya.[13]  HAMKA dengan menyatakan demikian berarti menegaskan kembali bahwa ulama’ adalah kelompok elit yang terpelajar dan berpegang teguh pada kebenaran. Meski pun demikian, kehidupan ulama’ tetap berbaur dengan masyarakat, tidak membentuk kelompok eksklusif tersendiri. Tradisi Ulama’ di Indonesia pun tidak jauh berbeda dengan tradisi Ulama’ di Timur Tengah, di mana seorang Ulama’ memiliki institusi Pendidikan tersendiri dengan murid dari berbagai wilayah. Satu sisi mengenai afiliasi organisasi, Ulama’ di Indonesia cenderung memiliki afiliasi dengan organisasi kemasyarakatan tertentu, berbeda dengan Ulama’ di Timur Tengah yang cenderung independent tanpa afiliasi organisasi kemasyarakatan, namun bukan berarti memisahkan diri dengan masyarakat.[14] Pengertian kata ulama’ ini dalam masyarakat modern terkadang dikenal dengan sebutan lain, yaitu intelektual.

Kata Intelektual memiliki akar sejarah cukup Panjang. Kata intelektual muncul dari sebuah konflik pemecatan seorang Perwira Perancis. Istilah Intelektual pada masa itu memiliki konotasi negative karena mengacu kepada orang-orang yang tidak setia dan tidak tunduk kecuali pada pemikirannya sendiri (bahkan tidak kepada bangsa, negara, dan agamanya sekalipun –sehingga berarti juga tidak nasionalis, tidak patriotis, dan tidak religius). Intelektual ialah mereka yang selalu berseberangan dengan penguasa, senantiasa kritis dan memberontak terhadap segala bentuk kemapanan atau status quo. Mereka adalah orang-orang yang ‘berumah di atas angin’, tidak membumi (déracinés), tak berkuasa, dan hanya pandai bicara.[15] Konotasi negative ini kemudian bertransformasi setelah dipicu oleh Julien Benda yang menyatakan bahwa intelektual adalah pejuang keadilan dan kebenaran, mereka tekun menikmati bidang keahliannya bukan karena imbalan materi atau kepentingan sesaat.[16] Sejak itu istilah intelektual terus menjadi topik diskursus dan konotasinya pun bertransformasi seiring perubahan definisinya.[17]

Howard (1999) mendefinisikan Intelektual sebagai sebagai individu, atau sebuah kelompok kecil manusia yang merumuskan generalisasi atau konsep mengenai nilai-nilai dasar, arah atau usaha suatu kelompok, masyarakat, negara, atau kemanusiaan secara umum.[18] Robert Michels mendefinisikan intelektual sebagai orang-orang yang memiliki pengetahuan, atau melakukan penilaian berdasarkan refleksi dan pengetahuan yang diturunkan secara tidak langsung dan ekslusif dari persepsi indra dibandingkan dengan non-intelektual.[19] Justifikasi ini tidak semata didasarkan pada gelar akademik yang spesifik, namun lebih ke kemampuan seseorang untuk mengembangkan suatu ilmu dan mencari solusi untuk masalah-masalah spesifik. Definisi ini memiliki konsekuensi bahwa seseorang yang tanpa gelar akademik namun memiliki pengetahuan dan mampu menemukan solusi mengenai masalah spesifik, maka ia dapat disebut sebagai intelektual.[20] Dunia Islam baru mengenal istilah intelektual pada masa modern. Masyarakat Timur Tengah menyebut intelektual dengan nama “mutsaqqaf” (budayawan) dan “mufakkir” (pemikir) atau “rawsyan-fikr” (dalam bahasa Farsi), sementara di Indonesia diistilahkan dengan kata “cendekiawan”.[21]

Baik kata ulama’ maupun kata intelektual dalam tataran makna merupakan dua kata yang tidak bisa dipisahkan. Tradisi Islam menunjukkan bahwa dalam sejarahnya tidak pernah terjadi dikotomi antara ulama’ maupun intelektual, karena dalam tradisi Islam ulama’ merupakan seorang yang berilmu di berbagai bidang, tidak terbatas pada ilmu agama saja. Karakter ulama’ demikian berkaitan dengan karakter Islam yang mampu berinteraksi dengan peradaban dan kebudayaan lain dan mampu melakukan islamisasi.[22] Fenomena ini misal terjadi ketika Islam berinteraksi dengan peradaban Yunani, di mana kemudian ulama’ muslim melakukan pembacaan teks-teks Yunani dan kemudian ilmu dari teks-teks ini mampu diimplementasikan nyata. Quraish Shihab juga menyatakan ini ketika menafsirkan Q.S. Fathir: 28. Shihab pertama mengutip Thabathab’i yang menulis bahwa ulama’ adalah mereka yang mengenal Allah Swt., dengan nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan-perbuatanNya, pengenalan yang bersifat sempurna sehingga hati mereka menjadi tenang dan keraguan serta kegelisahan menjadi sirna, dan tampak pula dampaknya dalam kegiatan mereka sehingga amal mereka membenarkan ucapan mereka.[23] Shihab lalu mengutip Thahir ibn Asyur yang menulis bahwa yang dimaksud dengan ulama’ adalah orang-orang yang mengetahui tentang Allah dan syariat. Sebesar kadar pengetahuan tentang hal itu, sebesar itu pula kadar kekuatan khasyat/ takut. Adapun ilmuwan dalam bidang yang tidak berkaitan dengan pengetahuan tentang Allah serta pengetahuan tentang ganjaran dan balasanNya-yakni pengetahuan yang sebenarnya-pengetahuan mereka itu tidaklah mendekatkan mereka kepada rasa takut dan kagum kepada Allah. Shihab lalu memberikan tafsiran dirinya bahwa pengertian ulama’ dalam ayat ini tidaklah mutlak hanya dari segi pengetahuan agama, jika ditinjau dari penggunaan Bahasa Arab. Shihab menyatakan bahwa siapa pun yang memiliki pengetahuan, dan dalam disiplin apa pun pengetahuan itu, maka ia dapat dinamai ‘alim. Kesan pada ayat ini pun juga ilmu yang dimaksud adalah ilmu yang berkaitan dengan fenomena alam.[24] Pendapat ini juga bersesuaian dengan HAMKA yang menyatakan bahwa ulama bukan hanya terbatas pada orang yang tahu hukum-hukum agama secara terbatas, atau orang yang hanya mengaji kitab fiqh, namun mereka mampu mengenal Allah dan dan mengenal perintah Allah. HAMKA menjelaskan bahwa untuk mengenal Allah, maka seseorang harus membaca ayatNya yang tidak hanya terbatas pada teks, namun bahkan alam dunia ini sebagai ayatNya. Konsekuensi dari hal ini adalah, HAMKA secara tersirat menjelaskan bahwa ulama’ adalah orang yang memiliki pengetahuan baik dalam agama dan fenomena alam.[25]

Al Qur’an diturunkan kepada Nabi pada tahun 610 M (12 tahun sebelum hijriyah). Turunnya Al Qur’an pada waktu itu sebelum syariat kewajiban puasa Ramadhan diperintahkan (2 hijriyah). Penurunan Al Qur’an pertama kali pada bulan Ramadhan secara langsung memberikan pesan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan ilmu, bulan intelektual. Pemaknaan ini menunjukkan bahwa Islam hadir dengan membawa semangat ilmu, bahkan untuk pertama kali. Semangat ilmu yang dibawa oleh Islam seharusnya menjadi pondasi utama muslim, yaitu tradisi iqra’.

Konsep iqra’ dalam Q.S. Al ‘Alaq tidak hanya menunjuk pada kegiatan mengeja ‘huruf, kata atau kalimat’ sebagaimana umum dipahami dan dilakukan oleh masyarakat Muslim belakangan ini. Kata Iqra’ pada awalnya berasal dari kata kerja Qara’a bermakna ‘menghimpun’. Karena itu, apabila huruf atau kata dirangkai dan diucapkan, maka bermakna ‘telah menghimpunnya atau membacanya.’ Kata qara’a dalam beberapa kamus disebut mengandung makna yang beraneka ragam, seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri-ciri sesuatu, dan lain sebagainya, dengan semuanya bermuara pada satu kegiatan utama, yaitu menghimpun. Konsekuensi hal ini adalah berarti perintah iqra’ ini tidak mengharuskan adanya suatu teks tertulis sebagai objek bacaan, dan tidak pula harus diucapkan, sehingga terdengar oleh orang lain, dalam ayat ini pun, tidak disebutkan satu objek bacaan tertentu.[26] Kaedah Bahasa dalam hal ini menunjukkan bahwa perintah membaca tidak terbatas pada obyek khusus, tetapi terhadap segala sesuatu dari ayat-ayatNya. Hal ini bermakna objek dari perintah Iqra’ tidak hanya realitas  empiris, tetapi juga non-empiris.

Kata ‘Qalam’ yang mengikuti kata iqra’ dalam Q.S. ‘Al Alaq disebutkan pada ayat “’Allama bi Al-Qalam” memiliki dua maksud: pertama, Al-Qalam bermakna tulisan, yang dengan itu dapat diketahui perkara-perkara yang sebelumnya belum diketahui. Jadi di situ Al-Qalam yang kemudian berfungsi mewujudkannya dalam bentuk tulisan. Kedua, bermakna bahwa Allah swt mengajarkan kepada manusia bahwa pena dapat digunakan sebagai alat untuk menulis.[27] Hubungannya dengan dengan ilmu, HAMKA menjelaskan bahwa pena memang beku dan kaku, tidak hidup, akan tetapi apa yang dituliskan dengan pena itu adalah berbagai hal yang dapat dipahami oleh manusia.[28] Penafsiran tersebut menunjukkan bahwa dalam ayat tersebut di atas kata Iqra’ tidak dimaksudkan untuk makna ‘membaca’ saja, tetapi kadang juga bermakna ‘membaca dan menulis’ sekaligus, sesuai konteksnya.

Aktivitas membaca dan menulis mampu melahirkan dan mengembangkan ilmu-ilmu dalam Islam. Sementara ilmu itu sendiri merupakan asas bagi kemajuan peradaban Islam.[29] Oleh sebab itu, dalam satu kesempatan Imam al-Awza’i menegaskan bahwa secara mendasar manusia adalah orang-orang yang berilmu. Sementara selain mereka (yang tak berilmu) tidak berarti. Berangkat dari ini pula ciri khas peradaban Islam adalah peradaban ilmu, peradaban yang memiliki kualitas pembangunan manusia, tidak sekadar entitas fisik materi. Signifikansi ilmu bagi kehidupan manusia telah tampak dari turunnya Surat Al-‘Alaq: 1-5 itu sendiri. Hal ini misalnya ditegaskan oleh Ibnu Katsir, bahwa Surat Al-‘Alaq: 1-5 merupakan surat yang berbicara tentang permulaan Rahmat Allah swt yang diberikan kepada hamba-Nya. Ia juga awal dari nikmat yang diberikan kepada hamba-Nya dan sebagai tanbih (peringatan) tentang proses awal penciptaan manusia dari ‘alaqah. Ayat ini juga menjelaskan kemuliaan Allah swt yang telah mengajarkan manusia sesuatu hal (pengetahuan) yang belum diketahui, sehingga hamba dimuliakan-Nya dengan ilmu yang merupakan Qudrat-Nya.[30] Inilah mengapa perintah Iqra’ tidak hanya ditujukan kepada pribadi Nabi Muhammad saw saja, tetapi juga untuk umat manusia sepanjang sejarah kemanusiaan. Sebab ia merupakan kunci pembuka atau jalan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.[31] Hal ini menegaskan kembali bahwa peradaban tidak dapat diukur dari kemajuan fisik semata, sebab bangunan fisik tidak akan ada tanpa wujudnya kepercayaan, ideologi, pikiran, agama, termasuk ilmu pengetahuan. Konsep ini menjawab pernyataan bahwa ada hubungan erat antara perintah Iqra’ dengan kemajuan peradaban Islam.[32]

Masyarakat modern Indonesia memiliki masalah mengenai tradisi iqra’. Masyarakat dunia mengakui Indonesia sebagai negara dengan jumlah muslim terbesar di dunia. Masalah yang terjadi adalah kuantitas ini tidak hadir bersamaan dengan implementasi nilai-nilai Islam secara nyata. Nilai ilmu dalam Islam yang terejawantah dalam kegiatan iqra’. Masyarakat terpapar modernisasi begitu dini, diperparah dengan disrupsi teknologi dalam kehidupan, sedangkan masyarakat secara kualitas masih dipertanyakan. Najib Burhani dalam hal ini menyinggung masyarakat Indonesia yang merupakan masyarakat muslim terbesar, namun kehilangan tradisi Islam sendiri, yaitu tradisi iqra’, tradisi membaca.[33] Najib mengkritisi fenomena ledakan internet di masyarakat Indonesia yang tidak dibersamai dengan penguatan tradisi iqra’, sehingga menyebabkan internet menjadi sarana penghakiman massa dan pelampiasan emosi negative akibat dari budaya sensing culture dan kemampuan membaca yang rendah. Fenomena ini bahkan oleh Najib dinyatakan mampu memecah otoritas keagamaan, karena kini otoritas keagamaan tidak lagi ditentukan oleh tingkat keilmuan tokoh, melainkan ditentukan oleh kesepakatan masyarakat media yang ditunjukkan dalam bentuk jumlah like, share, dan subscribe.

Tradisi membaca yang melanda masyarakat perlu untuk dibangkitkan kembali. Bulan Ramadhan sebagai bulan ilmu seharusnya mampu menjadi pelecut gerakan ini. Umat muslim seharusnya mampu menjadi motor penggerak kebangkitan ini, selaras dengan semangat ilmu dan momentum Ramadhan. Semangat intelektualisme yang diajarkan oleh Islam semestinya meresap ke dalam sanubari muslim untuk kemudian menjadi nilai-nilai dasar dalam menjalani kehidupan.

Kebangkitan tradisi iqra’ mampu menanggulangi efek negative dari disrupsi teknologi, karena masyarakat dengan tradisi membaca mampu menyiapkan diri dalam menerima fenomena ini. Tradisi membaca ini pun seharusnya tidak disempitkan maknanya ketika kemudian ulama’ dimaknai dalam arti sempit sekadar orang ahli dalam bidang keagamaan. Berangkat dari hal ini, umat muslim sudah seharusnya memahami hakikat ulama’ yang sebenarnya, hakikatnya sebagai seorang yang memahami ilmu keagamaan beserta ilmu-ilmu lain yang menunjangnya, meski pun tetap pemahaman akan ilmu keagamaan menjadi pondasi utama. Pemahaman ini dapat dirajut dengan berbagai usaha, seperti misal menyusun kurikulum kajian Ramadhan yang tidak terbatas pada pembahasan ibadah ritual, namun juga pembahasan mengenai semangat kebangkitan tradisi iqra’ dan pembacaan fenomena alam. Penyusunan kurikulum kajian seperti ini mampu menggugah masyarakat untuk turut memahami pentingnya pemahaman yang holistic mengenai Islam yang tidak terbatas pada ibadah ritual. Hal yang lebih penting adalah berkaitan dengan diri sendiri, bagaimana bulan Ramadhan ini mampu menjadi ajang bagi pribadi muslim untuk berkontemplasi, merenungkan setiap ayatNya, mengingatNya dalam setiap waktu, baik ketika berdiri, duduk, maupun ketika berbaring. Perenungan ini akan membawa pada pemahaman mengenai betapa tidak adanya kesia-siaan dalam penciptaan segala hal. Perlu diketahui pula, bahwa perenungan adalah gerbang menuju intelektualisme, perenungan mampu membawa seseorang memikirkan sesuatu dengan mendalam, dan karenanya membuka pintu ilmu lebih jauh.

Peningkatan kapasitas individu dengan tradisi iqra’ dan perenungan secara otomatis akan membangun sebuah masyarakat berilmu. Wan Mohd Wan Daud menyebutkan bahwa tradisi ini akan menciptakan sebuah masyarakat dengan budaya ilmu. Yaitu terwujudnya satu keadaan di mana setiap lapisan masyarakat melibatkan diri, baik secara langsung maupun tidak langsung, dalam kegiatan keilmuan di setiap kesempatan. Budaya ilmu juga merujuk pada wujudnya satu keadaan di mana segala tindakan manusia baik di tahap individu, apatah lagi di peringkat masyarakat, diputuskan, dan dilaksanakan berdasarkan ilmu pengetahuan; entah itu melalui pengkajian maupun musyawarah.[34] Masyarakat dengan tradisi iqra’ yang kuat tentu mampu menghasilkan kehidupan yang Makmur karena memahami konsep-konsep kehidupan secara integral. Terakhir, melalui pembangunan masyarakat yang erat dengan tradisi iqra’, maka umat Islam mampu dan siap untuk membangun kembali peradabannya, yaitu peradaban dengan manusia terbaik.

 

References

[1] Q.S. 2: 125, Q.S. 2: 187, HR. Bukhari, no. 2026, HR. Muslim, no. 1172.

[2] HR. Ahmad, An Nasai, dan Baihaqy.

[3] Amien Rais, 1998. Tauhid Sosial: Formula Menggempur Kesenjangan. Bandung: Mizan.

[4] Q.S. 2: 185.

[5] Defy Catur Muslimah, 2017. Kandungan Pemikiran dalam QS. Al-‘Alaq (96): 1-5 Tafsir Al-Mishbah dan Al-‘Azim. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.

[6] Syed Naquib Al Attas, 2011. Islam dan Sekularisme, Cetakan Kedua Bahasa Indonesia. Bandung: PIMPIN. hlm. 177-179.

[7] Wan Mohd Nor Wan Daud, 2003. Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed Muhammad Naquib Al-Attas. Bandung: Mizan.

[8] Hisham Sharaby, 1981. Arab Intellectuals and the West, the Formative Years, 1875-1914. London: University Microfilms International.

[9] Abu Hamid al-Ghazali. Ihya’ Ulumiddin. Bandung: Penerbit Zaman.

[10] Syamsuddin Arif, 2017. Intelektual dan Ulama’ Vis-à-vis Penguasa. Jurnal Islamia Vol. XI. Jakarta: Institute for The Study of Islamic Thought and Civilizations. hlm. 14.

[11] S.M.N. Al Attas, 1994. The Worldview of Islam, An Outline, Opening Adress, dalam Sharifah Shifa al-Attas ed. Islam and the Challenge of Modernity, Proceeding of the Inaugural Symposium on Islam and the Challenge of Modernity: Historical and Contemporary Context, Kuala Lumpur, Agustus 1-5, 1994. Kuala Lumpur: ISTAC. hlm. 29.

[12] M. Quraish Shihab, 2012. Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al Qur’an. Jakarta: Lentera Hati. hlm. 341-343.

[13] Haji Abdul Malik Karim Amrullah, 2015. Tafsir Al-Azhar. Depok: Gema Insani. hlm. 477.

[14] Khoirun Niam, 2010. The Discourse of Muslim Intellectuals and ‘Ulama’s in Indonesia: A Historical Overview. Journal of Indonesian Islam Vol. 4. Surabaya: Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel. hlm. 294-295.

[15] Dietz Bering, 1978. Die Intellektuellen. Geschichte eines Schimpfwortes. Stuttgart: Klett-Cotta. hlm. 45.

[16] Julien Benda, 1928. The Treason of The Intellectuals. New York: William Morrow.

[17] Syamsuddin Arif, 2017. Islam dan Diabolisme Intelektual. Jakarta: Institute for The Study of Islamic Thought and Civilizations.

[18] Howard M. Federspiel, 1999. Muslim Intellectual in Southeast Asia. Jurnal Studia Islamika Vol. 6 No. 1. Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.

[19] Robert Michels, 1949. Intellectual, dalam Encyclopedia of Social Sciences. New York: Macmillian, dikutip dalam Syed Hussein Alatas, 1977. Intellectual in Developing Societies. London: Frank Cass.

[20] Syed Hussein Alatas, 1977. Intellectual in Developing Societies. London: Frank Cass.

[21] Syamsuddin Arif, Op.Cit. hlm. 12.

[22] Syamsuddin Arif, 2016. Islamic Science: Paradigma, Fakta, dan Agenda. Jakarta: Institut for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS). hlm. 84-90.

[23] M. Quraish Shihab, Op.Cit. hlm. 61.

[24] Ibid, hlm. 61-62.

[25] HAMKA, Op.Cit. hlm. 372-373.

[26] M. Quraish Shihab, 2004. Tafsir Al Misbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al Qur’an. Jakarta: Lentera Hati, hlm. 393.

[27] Fahr al-Razi. Tafsir Fahr al-Razi. Beirut: Dar al-Fikr.

[28] HAMKA, Op.Cit. hlm. 8.

[29] Ibn Khaldun, 2006. Muqaddimah Ibn Khaldun. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah. P. 341-345 & 466-467.

[30] Abu Fida al-Hafiz ibn Katsir al-Dimsyq, Tafsir Al Qur’an Al Adzim. Beirut: Dar al-Fikr. hlm. 645.

[31] M. Quraish Shihab, 1998. Membumikan Al Qur’an: Fungsi dan Peranan Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat.

[32] Asmu’i, 2013. Peranan Tradisi Membaca dalam Membangun Peradaban. Selengkapnya lihat, https://inpasonline.com/peranan-tradisi-membaca-dalam-membangun-peradaban/, diakses pada 30 Mei 2019.

[33] Ahmad Najib Burhani, 2019. Tradisi Iqra’ dan The Death of Expertise. Makalah disampaikan pada Pengajian Ramadhan 1440 H. Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 11 Mei 2019 di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

[34] Wan Mohd Nor Wan Daud, 1997. Budaya Ilmu: Satu Penjelasan. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kuala Lumpur.

Dinta Dwi Agung Wijaya

Dinta Wijaya, mengecup dunia pertama kali pada Kamis, 11 Juni 1998. Pertama kali merasakan pendidikan umum ketika kuliah. Jika masa lalu adalah ngarai yang bisa dituruni, maka masa depan adalah gunung yang bisa didaki. Ilmu, Tekad, dan Bahasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *